Oleh: Falen Umbokahu, Ketua IKA GMNI Sulut, Ketua Beta Gibran Minahasa, Mantan Sekretaris DPC GMNI Minahasa, Petani Milenial Minahasa
Sukun masuk dalam daftar tanaman masa depan yang diproyeksikan mampu mencegah krisis pangan global (climate resilient crops).
Buah sukun kaya karbohidrat, Bebas gluten, Mengandung serat, Kalium, dan antioksidan. Pohon Sukun bisa ditumbuh di lahan kering, tak butuh perawatan rumit dan tetap berbuah saat cuaca tak menentu.
Beberapa alasan konkret tentang Sukun yang perlu diketahui khalayak:
1. Kaya Gizi
- Sukun mengandung karbohidrat kompleks yang cukup tinggi, dengan 100 gram buah matang mengandung sekitar 27 gram karbohidrat dan 103 kalori, serta kadar lemak yang sangat rendah yaitu sekitar 0,2 gram. Selain itu, ia juga mengandung serat, vitamin seperti vitamin C, A, B1, B2, B3, E, serta mineral penting seperti kalium, magnesium, zat besi, dan kalsium. Kandungan gizi ini menjadikannya sumber energi yang baik dan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.
- Sukun juga memiliki indeks glikemik rendah, aman untuk penderita diabetes dan membantu menjaga kesehatan jantung. Selain itu, karena bebas gluten, ia menjadi alternatif pangan bagi mereka yang memiliki intoleransi gluten.
2. Kemampuan bertahan dalam kondisi yang ekstrem
- Penelitian dari Universitas Northwestern di Illinois menunjukkan bahwa sukun lebih tangguh terhadap perubahan iklim dibandingkan tanaman biji-bijian seperti padi dan jagung yang produktivitasnya cenderung menurun di bawah suhu yang lebih panas.
- Pohon sukun dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, termasuk tanah marginal, dari dataran rendah hingga tinggi. Ia juga dapat tumbuh di daerah basah maupun cukup kering asalkan ada ketersediaan air yang cukup. Tajuknya yang lebar membantu mengurangi erosi tanah, sedangkan akarnya yang kuat dapat menyimpan air hujan. Selain itu, pohon sukun mampu menyerap hingga 69 ton karbon per hektar dalam 50 tahun, sehingga berperan dalam mitigasi perubahan iklim.
3. Produktivitas tinggi dan berbuah sepanjang tahun
- Pohon sukun dapat berbuah sepanjang tahun, sehingga menyediakan pasokan pangan yang stabil. Buahnya bisa mencapai berat 1-4 kilogram per buah, dan pohon yang dewasa dapat menghasilkan banyak buah setiap tahunnya.
- Budidaya sukun juga relatif mudah dan tidak memerlukan perawatan yang terlalu intensif serta pupuk kimia berlebih. Ia juga relatif tahan terhadap banyak hama dan penyakit, sehingga petani dapat memperoleh hasil panen yang maksimal dengan biaya produksi yang lebih rendah.
4. Potensi Diversifikasi produk
- Sukun dapat diolah menjadi berbagai produk turunan yang bernilai ekonomis tinggi, seperti tepung sukun yang bisa digunakan sebagai pengganti tepung terigu atau beras, mi sukun sebagai alternatif mi instan sehat, keripik sukun, roti, kue, serta berbagai produk olahan lainnya.
- Pasar global sukun juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, dengan proyeksi nilai pasar mencapai 2.802 miliar dolar AS pada 2032 dan tingkat pertumbuhan tahunan komposit (CAGR) sebesar 18,6 persen. Hal ini membuka peluang ekonomi yang besar bagi petani dan pelaku industri.
5. Peran dalam sistem agroforestri
- Sukun telah lama menjadi bagian dari sistem agroforestri tradisional di Indonesia, dimana masyarakat menanam sukun bersama kopi, cokelat, pala, sagu, dan tanaman pangan lain. Sistem ini tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga petani tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem.
Kesimpulan
Meskipun memiliki banyak keunggulan, pengembangan sukun sebagai tanaman pangan utama masih menghadapi beberapa tantangan, seperti kurangnya kesadaran masyarakat tentang manfaatnya, keterbatasan ketersediaan bibit unggul, serta perluasan pasar dan pengolahan yang lebih baik.
Namun jika punya dukungan dari pemerintah, akademisi, dan sektor swasta, sukun memiliki potensi besar untuk berkontribusi signifikan dalam mencegah krisis pangan global dan mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan.