CatatanSenjaNews, Manado (18/7/2026) | Konferensi Para Pihak pada Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati, lebih dikenal dengan sebutan CBD COP. 

Ini merupakan forum pertemuan internasional tingkat tinggi yang bertujuan merumuskan kebijakan serta langkah konkret dalam pelestarian dan pengelolaan berkelanjutan keanekaragaman hayati dunia.

Sebagai informasi, Indonesia telah resmi ditetapkan sebagai tuan rumah pelaksanaan CBD COP ke-26 yang akan diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1996. 

Sejalan dengan capaian tersebut, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, kini dinobatkan sebagai salah satu kandidat utama sekaligus lokasi yang sangat ideal untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan CBD COP ke-19 pada tahun 2030.

Lebih lanjut, Pencalonan Manado didasari oleh sejumlah keunggulan yang menjadikannya pilihan tepat bagi forum dunia ini, antara lain: 

1. Pusat Keanekaragaman Hayati Dunia

Terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang dan menjadi rumah, bagi ribuan spesies darat serta laut.

2. Alam yang Harmonis

Dari terumbu karang yang semarak dan hutan bakau, hingga pegunungan vulkanik maupun hutan hujan, Manado menampilkan seimbangnya kehidupan yang luar biasa. 

3. Lokasi Strategis 

Mudah diakses melalui konektivitas udara yang baik di Asia Pasifik, berfungsi sebagai jembatan alami antara bangsa dan wilayah. 

4. Keunggulan Ekowisata 

Menawarkan destinasi menabjubkan, pengalaman budaya yang kaya, dan masyarakat berkelanjutan menciptakan pengalaman bagi para peserta. 

5. Komitmen Lokal 

Semangat kuat masyarakat, kearifan lokal, dan inisiatif kolaboratif dalam konservasi maupun keberlanjutan. 

6. Berkelanjutan dan Siap 

Fasilitas modern, infrastruktur hijau, dan rencana aksi yang berkomitmen untuk menyelenggarakan COP rendah karbon, inklusif, serta berdampak. 

GMNI MANADO BERI DUKUNGAN

Upaya pencalonan ini memperoleh dukungan dari berbagai pihak, salah satunya dukungan Perwakilan Wisma Trisakti GMNI di Ibukota Bumi Nyiur Melambai, yakni Matthew Liling. 

Ketua DPC GMNI Manado Periode 2025-2027 tersebut menggarisbawahi mengenai momentum pemberdayaan masyarakat terdampak. 

"Penyelenggaraan konvensi ini tidak hanya soal prestasi internasional, melainkan menjadi pintu gerbang untuk memberdayakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dan wilayah terdampak," ujar Mahasiswa S2 Unsrat sekaligus penerima beasiswa PKPA kerja sama Wisma Trisakti GMNI bersama DPN KNAI. 

Ia juga berpesan, Pengelolaan keanekaragaman hayati tidak akan berjalan maksimal tanpa melibatkan mereka yang hidup berdampingan langsung dengan alam.

Sementara itu, Sekretaris DPC GMNI Manado, Giaristy Rugian melihat potensi tuan rumah ideal bagi konferensi keanekaragaman hayati dunia. 

"Semangat pencalonan Manado juga sejalan dengan nilai luhur Trisila Bung Karno, khususnya prinsip Berkepribadian dalam Kebudayaan. Penyelenggaraan konvensi ini tidak hanya mengadopsi standar internasional semata, melainkan berakar pada identitas dan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Utara yang hidup rukun berdampingan dengan alam," kunci Gia. (red)