CatatanSenjaNews, Manado (31/7/2026) | Berdasarkan data survei SMRC terkait elektabilas parpol yang berhubungan dengan pilihan presiden tergambar secara rinci, angka dukungan pemilih PDI Perjuangan kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tercatat sebesar 28 persen.
Artinya, hampir sepertiga pemilih yang biasanya mendukung PDI Perjuangan ternyata menyalurkan pilihannya kepada sosok Gibran dalam sistem semi terbuka survei tersebut.
Angka 28 persen jauh lebih tinggi dibandingkan dukungan pemilih PDI Perjuangan terhadap tokoh lain, bahkan melampaui dukungan yang diberikan kepada tokoh-tokoh yang justru berasal dari lingkaran partai itu sendiri.
Fakta itu menjadi catatan sangat menarik, dimana Gibran ternyata mendapat simpati luar biasa besar dari kalangan pemilih PDI Perjuangan, sekaligus menunjukkan bahwa kedekatan tokoh dengan rakyat kadang mampu menembus batas loyalitas partai sudah terjalin lama.
Dukungan sebesar 28 persen dari basis pemilih PDI Perjuangan menjadi angka tertinggi yang diraih Gibran dari seluruh kelompok pendukung partai mana pun dalam survei SMRC.
Jelas ini membuktikan daya tarik sosoknya melintasi batas-batas kesetiaan partai selama ini diyakini tak tergoyahkan.
PEMILIH "BANTENG" TAPI BERHATI "GAJAH"
Sebuah ungkapan baru kini muncul, yakni "Banteng Berhati Gajah". Maknanya sederhana namun mengguncang tatanan yang selama ini dianggap tak tergoyahkan.
Dimana pemilih dikenal setia selama puluhan tahun menjadi votter partai berlambang Banteng bermoncong putih, ternyata hatinya melabuhkan pilihan kepada sosok justru tidak berasal dari partainya sendiri.
Data survei SMRC terbaru membuktikan fenomena itu bukan sekadar isu, melainkan kenyataan nyata yang tercatat dalam angka.
Angka survei memetakan hubungan antara pilihan calon presiden dan elektabilitas partai dalam sistem semi terbuka, terlihat dengan sangat jelas bagaimana simpati pemilih PDI Perjuangan kepada tokoh-tokoh di luar partainya.
Saat nama Gibran Rakabuming Raka muncul sebagai pilihan, tercatat 28 persen pemilih PDI Perjuangan memberikan dukungannya.
Jelas, hampir sepertiga pemilih selama ini menjadi tulang punggung partai Banteng, ternyata memilih sosok justru dekat dengan partai berlambang Gajah.
Bahkan, jika lebih jelas dilihat angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan dukungan yang diberikan kepada tokoh lain dari lingkaran partai sendiri.
Kuskridho & Arifianto (2019), Peta Politik Indonesia: Pergeseran Preferensi Pemilih Pasca-Reformasi
Pemilih tidak selalu memilih berdasarkan afiliasi partai semata. Sosok populer bisa menarik suara dari partai lain, terutama jika sosok tersebut memiliki kedekatan emosional, citra, dan basis pemilih lintas partai. Semakin kuat sosok tersebut, semakin besar ia menarik suara dari partai-partai di sekitarnya.
Gibran yang selama ini diidentikkan dengan Partai Solidaritas Indonesia (Gajah) justru menarik 28% suara pemilih PDI Perjuangan (Banteng). Ini adalah bukti nyata efek gelombang, yakni pemilih PDI Perjuangan tidak memilih berdasarkan simbol partai, melainkan berdasarkan sosok yang mereka percaya.
Kuskridho & Arifianto menjelaskan bahwa ketika figur publik melampaui popularitas partai, pemilih cenderung "memisahkan hati dari lambang" yakni tetap mencintai partainya, tapi memilih sosok yang dianggap paling tepat. Inilah yang disebut Banteng Berhati Gajah.
Anthony Downs (1957), An Economic Theory of Democracy
Pemilih dan partai berusaha mendekati posisi mayoritas untuk menang. Pemilih tidak selalu memilih partai yang paling ekstrem sesuai keyakinannya, tapi memilih yang paling mendekati preferensi mereka secara keseluruhan. Jika sosok dari partai lain lebih dekat dengan nilai yang dianut, pemilih akan berpindah pilihan tanpa berpindah keanggotaan partai.
Pemilih PDI Perjuangan yang memilih Gibran tidak berarti berhenti mencintai PDI Perjuangan. Menurut Downs, mereka sedang melakukan perhitungan rasional: Gibran lebih dekat dengan harapan saya dibandingkan calon dari partai sendiri.
Inilah sebabnya 28% itu sangat berarti: bukan pengkhianatan terhadap partai, melainkan penyesuaian rasional pemilih terhadap sosok yang dianggap paling mewakili mereka.
Henry Tajfel & John Turner (1979), An Integrative Theory of Intergroup Conflict
Individu mengidentifikasi diri dengan kelompok (partai) untuk membangun harga diri. Namun identitas ini tidak kaku, jika sosok luar kelompok dinilai lebih positif, lebih kompeten, dan lebih mewakili aspirasi, loyalitas kelompok bisa bergeser. Pemilih bisa tetap bangga dengan partainya, sekaligus memilih sosok dari luar.
Fenomena "Banteng Berhati Gajah" adalah contoh murni teori ini. Pemilih PDI Perjuangan tetap Banteng — identitasnya tidak berubah. Tapi hatinya tertuju pada Gibran karena sosok tersebut dirasakan lebih dekat dengan nilai, harapan, dan masa depan yang diinginkan.
Tajfel menjelaskan, perilaku memilih tidak selalu mengikuti label partai, melainkan ia mengikuti perasaan diwakili. Dan Gibran berhasil membuat pemilih PDI Perjuangan merasa diwakili, meskipun ia bukan dari partai tersebut.
Bruce E. Keith et al. (2016), The Role of Candidate Image in Electoral Behavior
Di sistem presidensial, citra calon sering kali lebih kuat daripada afiliasi partai. Pemilih memilih sosok, bukan partai. Partai menjadi sekadar kendaraan, sementara penentu utama adalah kepercayaan pribadi, kedekatan, dan harapan terhadap sosok tersebut.
Angka 28% pemilih PDI Perjuangan memilih Gibran adalah bukti bahwa Gibran telah menjadi kekuatan politik yang melampaui batas partai mana pun. Pemilih tidak bertanya "dari partai apa dia?" — mereka bertanya "apakah dia mengerti saya?". Dan jawabannya: ya.
Inilah makna terdalam fenomena ini: Gibran bukan lagi milik satu partai. Ia menjadi milik siapa pun yang merasa diwakilinya.
V.O. Key (1966), The Responsible Electorate
Pemilih tidak memilih berdasarkan janji masa depan semata, mereka memilih berdasarkan pengalaman masa lalu dan penilaian terhadap kinerja serta kedekatan. Pemilih berpindah bukan karena dibujuk janji baru, tapi karena merasakan mana yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Pemilih PDI Perjuangan yang memilih Gibran menurut V.O. Key bukan berpindah karena iklan atau kampanye. Mereka berpindah karena menilai Gibran lebih memahami aspirasi rakyat dibandingkan alternatif lain.
Fenomena ini menunjukkan, loyalitas partai tidak mati, tapi ia bisa dikalahkan oleh kedekatan yang dirasakan lebih nyata. (red)