CatatanSenjaNews, Jakarta (2/8/2026) | Jika kita menengok ke belakang, periode 2013–2015 dikenal sebagai masa yang menantang bagi perekonomian Indonesia. 

Pertumbuhan melambat, rupiah terpuruk, utang negara naik. Kini, tiga tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memperlihatkan pola yang mencolok kemiripannya. 

Tetapi dengan satu perbedaan sangat mendasar yakni titik mulanya jauh lebih tinggi, sehingga risikonya pun jauh lebih besar.

EKONOMI 2013 HINGGA 2015 — KETIKA KOMODITAS JATUH DAN DANA KELUAR

Periode tiga tahun terakhir Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masuk ke era Jokowi merupakan masa transisi keras, dimana angka-angka berbicara keras.

Harga komoditas andalan Indonesia yaitu batubara, kelapa sawit, minyak bumi anjlok tajam di pasar dunia. 

Sementara itu, Bank Sentral Amerika Serikat mulai menaikkan suku bunga, mendorong modal keluar dari pasar berkembang.

Pertumbuhan Ekonomi 

* 5,58% (2013)

* 5,02% (2014)

* 4,79% (2015)

Inflasi 

* 8,38% (2013)

* 8,36% (2014)

* 3,35% (2015)

Rupiah/USD 

* Rp 10.461 (2013)

* Rp 12.440 (2014)

* Rp 13.882 (2015)

Defisit Anggaran

* -2,3% PDB (2013)

* -2,2% PDB (2014)

* -2,6% PDB (2015)

Rasio Utang/PDB 

* 28,5% (2013)

* 30,1% (2014) 

* 32,7% (2015) 

Neraca Perdagangan 

* 2013 Defisit 

* 2014 Defisit 

* 2015 Defisit

Ciri khas masa itu ialah Pertumbuhan turun beruntun, inflasi tinggi membebani rakyat, rupiah melemah 32% dalam tiga tahun, neraca perdagangan defisit, dan utang negara naik 4,2 poin persentase. 

Indonesia disebut menghadapi "defisit kembar", yakni defisit anggaran dan defisit neraca pembayaran berjalan bersamaan. Semua itu dipicu dari luar antara lain, harga komoditas jatuh dan modal asing pergi.

EKONOMI 2024 SAMPAI 2026 — STABIL DI LUAR, BEBAN DI DALAM

Tiga tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memperlihatkan wajah lebih tenang di permukaan, namun tekanan struktural justru semakin dalam.

Pertumbuhan Ekonomi 

* 5,05% (2024)

* 4,95% (2025)

* 5,0–5,2% (2026/Proyeksi)

Inflasi 

* 2,05% (2024)

* 2,7% (2025)

* 2,5–3,5% (2026/Proyeksi)

Rupiah/USD 

* Rp 15.400 (2024)

* Rp 16.150 (2025)

* Rp 15.800–16.200 (2026/Proyeksi)

Defisit Anggaran 

* -2,28% PDB (2024)

* -2,48% PDB (2025)

* -2,6% PDB (2026/Proyeksi)

Rasio Utang/PDB 

* 40,3% (2024)

* 41,5% (2025)

* 42,5% (2026/Proyeksi)

Neraca Perdagangan 

* Surplus $36,6 M (2024)

* Surplus $33 M (2025)

* Surplus atau Defisit ? (2026/Proyeksi)

Ciri khas masa kini, Pertumbuhan mendatar di kisaran 5%, tidak melesat lebih tinggi. 

Inflasi rendah dan terkendali, kabar baik bagi daya beli. Neraca perdagangan surplus besar berkat ekspor komoditas dan manufaktur. 

Di balik itu, defisit anggaran melebar mendekati batas hukum 3%, rasio utang/PDB menembus 42%, dan rasio pajak justru turun ke bawah 9%, terendah dalam sejarah. 

Program sosial besar seperti Makan Bergizi Gratis mendorong belanja naik tanpa disertai pendapatan yang tumbuh secepatnya.

MIRIP TAPI BUKAN SAMA PERSIS

- Pola yang sama kembali terulang 

Pertumbuhan ekonomi bergerak mendatar di kisaran 5%, tidak mencapai target ambisius, tidak mempercepat secara berarti. Baik dulu maupun sekarang, angka 5% tampaknya menjadi batas yang sulit ditembus.

Defisit anggaran membesar mendekati batas hukum 3%, dua periode sama-sama memilih menjaga pertumbuhan lewat belanja negara, meski pendapatan tidak mengikutinya.

Utang negara naik tanpa jeda, setiap tahun rasio utang terhadap PDB bertambah. Dulu naik dari 28,5% ke 32,7%. Sekarang naik dari 40,3% ke 42,5%. Polanya identik.

Pendapatan negara lemah rasio pajak menurun, dulu dari 10,7% turun ke 10,4%. Sekarang dari 9,2% turun ke di bawah 9%. Ketergantungan pada utang karena pajak tidak membaik adalah benang merah tidak terputus.

Intinya, ialah mekanisme penggerak ekonomi sama persis, yaitu belanja negara tumbuh lebih cepat daripada pendapatan, selisihnya ditutup utang. Pola fiskal ini tidak berubah dari 10 tahun lalu hingga hari ini.

LEBIH BAIK DI SATU SISI, LEBIH BERAT DI SISI LAIN

Inflasi 

* 6,7% rata-rata (2013-2015)

* 2,7% rata-rata (2024-2026)

Neraca Perdagangan 

* Defisit beruntun (2013-2015)

* Surplus besar (2024-2026)

Pengangguran 

* Naik jadi 6,2% (2013-2015)

* Turun ke 4,7% (2024-2026)

Penyebab perlambatan 

* Harga komoditas jatuh di luar (2013-2015)

* Konsumsi melambat di dalam (2024-2025)

Perbedaan paling mencolok, dulu masalahnya datang dari luar yaitu harga komoditas jatuh dan uang asing pergi. 

Sekarang masalahnya ada di dalam, yakni belanja negara tumbuh cepat, pendapatan tidak mengimbangi, dan utang menumpuk di tingkat yang jauh lebih tinggi.

Inflasi rendah dan surplus perdagangan membuat ekonomi terasa lebih tenang di permukaan. Tapi di bawah permukaan, beban struktural justru lebih berat.

POLA SAMA, RISIKO LEBIH BESAR

Apakah kondisi ekonomi sekarang mirip dengan 2013–2015? Jawabannya: YA, SANGAT MIRIP — dalam pola fiskal, pertumbuhan mendatar, dan utang naik berkelanjutan.

Namun ada perbedaan krusial yang tidak boleh diabaikan: Dulu utang negara berada di level 28,5% PDB. Sekarang sudah di atas 42%. Artinya, jika pola yang sama terus berulang, yaitu defisit melebar, utang naik, pajak lemah. Maka setiap tahun berikutnya akan dimulai dari titik yang lebih tinggi dan lebih berat.

Secara sederhana, dulu Indonesia sakit dengan demam tinggi. Sekarang demamnya rendah, tapi beban di pundak jauh lebih berat.

Peringatan terbesar ialah Jika pertumbuhan terus bergerak mendatar di 5%, sementara utang terus naik mendekati 45% PDB, maka ruang gerak fiskal akan makin sempit, beban bunga makin memakan anggaran, dan saat guncangan datang, baik dari dalam maupun luar, kemampuan menahan guncangan akan jauh lebih terbatas dibanding sepuluh tahun lalu.

Pola yang sama terulang.Tapi risikonya kali ini lebih besar bukan karena kebijakan berubah, melainkan karena beban yang ditanggung sudah jauh lebih berat.

Sumber Data: BPS, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Laporan Ekonomi Keuangan BI, World Bank, IMF periode 2013–2015 dan data terkini 2024–2026. (Penulis - Deon)