Oleh: Redaksi Catatan Senja News 

Data elektoral adalah cermin nyata keberhasilan atau kegagalan sebuah kepemimpinan partai, jika kita menengok kembali hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2019 dan 2024, terlihat jelas adanya tren penurunan yang sangat mengkhawatirkan pada perolehan kursi DPRD Kota Tomohon dari Partai Golkar.

Fakta ini menjadi bahan kajian serius bahwa kepemimpinan yang berjalan selama ini dinilai tidak lagi relevan, ini adalah keniscayaan untuk menyelamatkan partai dari kehancuran lebih jauh.

DATA BICARA: DARI KUAT MENJADI LEMAH

Pertama, Periode 2019: 

Golkar Tomohon mampu mengamankan sejumlah kursi yang cukup signifikan, menunjukkan basis massa yang masih kuat dan mesin partai yang berjalan, 10 kursi dari Total 20.

Kedua, Periode 2024: 

Terjadi penurunan drastis dalam jumlah perolehan kursi. Bahkan, posisi Golkar terancam tergeser oleh partai-partai lain yang lebih agresif dan inovatif, 7 kursi dari 25.

ANALISIS PENURUNAN

Penurunan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator kegagalan strategi.

1. Basis Massa Tergerus: 

Kader dan simpatisan mulai merasa tidak terlayani dan tidak tergerakkan.

2. Mesin Partai Mati Suri: 

Terjadi kebekuan organisasi di mana komunikasi antar tingkatan (Ranting, Cabang, DPD) tidak berjalan lancar.

3. Kurang Sentuhan ke Masyarakat: 

Golkar terlihat "jauh" dari rakyat, hanya muncul saat menjelang pemilu saja.

KRITIKAN TERHADAP KEPEMIMPINAN MIKY WENUR

Di bawah kepemimpinan Miky Wenur, Golkar Tomohon dinilai mengalami stagnasi dan kemunduran.

Ada beberapa catatan kritis yang menjadi penyebab utama turunnya kursi tersebut:

- Gaya Kepemimpinan yang Kaku dan Tertutup

Kepemimpinan dinilai terlalu sentralistik, kurang mengakomodasi aspirasi kader muda, dan gagal melakukan branding partai yang menarik. Akibatnya, generasi muda enggan bergabung, dan partai terlihat kuno.

- Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Lemah

Terlihat tidak adanya pembinaan kader yang berkelanjutan. Kader-kader potensial tidak dipersiapkan dengan matang, sehingga saat pemilihan calon legislatif, kualitas yang diusung kalah bersaing dengan partai lain.

- Strategi Pemenangan yang Usang

Metode kampanye dan pendekatan ke masyarakat masih menggunakan cara-cara lama yang tidak lagi efektif. Tidak ada inovasi, tidak ada sentuhan teknologi, sehingga gagal menjangkau pemilih pemula dan kalangan luas.

- Hilangnya Kepercayaan Publik

Penurunan kursi adalah bukti nyata bahwa masyarakat mulai kehilangan kepercayaan. Ketika pemimpin gagal membawa partai maju, maka wajar jika rakyat berpaling.

DIAGNOSA KEGAGALAN GOLKAR DI PILWAKO TOMOHON

Fakta pahit harus ditelan oleh keluarga besar Partai Golkar Kota Tomohon. Dalam dua periode Pemilihan Wali Kota (Pilwako) terakhir, partai ini gagal mengantarkan calonnya duduk di kursi nomor satu.

Kekalahan beruntun ini bukan sekadar nasib buruk, melainkan hasil dari sistem yang salah, strategi yang keliru, dan manajemen politik yang lemah. Jika tidak segera diperbaiki, bukan tidak mungkin tren negatif ini akan terus berulang.

Mengapa Golkar Tomohon kalah dua kali beruntun di Pilwako? 

* Gagal Membaca Denyut Nadi Masyarakat

Golkar terlalu lama merasa "besar" dan merasa basis massa pasti tetap setia. Padahal, pemilih di Tomohon semakin kritis dan cerdas.

- Terlihat Jauh dari Rakyat: Kesan yang muncul adalah partai hanya hadir saat pencalonan, dan hilang saat tidak ada pemilu.

- Kurang Sentuhan Langsung: Program dan kegiatan partai tidak menyentuh langsung kebutuhan dasar warga di tingkat kelurahan dan lingkungan.

* Mesin Partai Tidak Solid dan Terbelah

Ini penyakit kronis! Saat pemenangan berlangsung, seringkali terjadi perpecahan di internal.

- Kubu-kubuan: Adanya kelompok yang merasa paling berkuasa, sehingga kader lain tersingkir dan tidak bekerja maksimal, bahkan ada yang "mengganjal" calon sendiri.

- Komunikasi Putus: Ranting dan Cabang tidak mendapat arahan jelas, dana operasional minim, sehingga mesin partai mati suri saat dibutuhkan.

* Salah dalam Menentukan Calon

Dalam dua periode terakhir, ada kesalahan dalam mapping figur.

- Calon Kurang Elektabilitas: Terkadang figur yang diusung memiliki nama besar di partai, tapi tidak dikenal atau kurang disukai oleh masyarakat luas.

- Gagal Menangkap Figur Populer: Golkar sering gagal menggaet tokoh-tokoh masyarakat, pemuda, atau tokoh agama yang sebenarnya memiliki basis massa kuat untuk diajak berkoalisi.

* Strategi Kampanye yang Usang

Cara kampanye masih menggunakan pola lama yang tidak lagi efektif.

- Kurang memanfaatkan media sosial dan digital marketing.

- Kurang memiliki visi misi yang menawarkan solusi konkret bagi masalah Tomohon.

- Terkesan hanya mengandalkan nama partai, tanpa usaha keras meyakinkan pemilih.

RESEP MENUJU KEMENANGAN PILWAKO TOMOHON KEDEPAN 

1. Pembangunan Ulang Mesin Partai (Rebuilding)

- Rapikan Struktur: Pastikan pengurus dari Ranting sampai DPD bekerja nyata, bukan hanya stempel.

- Rutin Turun ke Bawah: Pemimpin partai wajib blusukan ke masyarakat setiap minggu, bukan hanya di kantor.

- Kaderisasi Kuat: Latih kader menjadi orator, relawan, dan agen perubahan di setiap lingkungan.

2. Persiapan Calon Jauh-Jauh Hari

- Cari Figur "Sakti": Jangan cari calon karena jabatan partai, tapi cari calon yang Dicintai Rakyat, Bersih, dan Punya Kapasitas.

- Uji Elektabilitas: Lakukan survei internal atau eksternal sebelum mendeklarasikan.

- Figur Bersih: Pastikan calon bebas dari masalah hukum dan citra negatif, karena pemilih Tomohon sangat menjunjung tinggi nilai kebaikan.

3. Transformasi, Komunikasi dan Branding 

- Go Digital: Kuasai media sosial. Ceritakan kerja nyata partai dan visi calon lewat konten-konten menarik yang disukai anak muda dan ibu-ibu.

- Program Menarik: Tawarkan solusi nyata untuk masalah Tomohon (Ekonomi, Pariwisata, Pemuda, Lingkungan), Jangan hanya janji manis.

KESIMPULAN 

Kekalahan dua kali berturut-turut adalah PELAJARAN BERHARGA, bukan alasan untuk menyerah.

Golkar masih partai besar, masih memiliki akar yang kuat di Tomohon. Yang hilang hanyalah MANAJEMEN dan STRATEGI.

Sudah saatnya Ganti Pemimpin, Ganti Cara Kerja!