Di balik angka-angka perbankan yang terlihat tenang, tersembunyi gejala ekonomi paling mengkhawatirkan, yakni tabungan masyarakat Indonesia terus menyusut selama delapan tahun berturut-turut.
Bukan turun sedikit, bukan pula naik lagi melainkan menurun terus tanpa henti, sejak tahun 2018 hingga pertengahan 2026.
Data resmi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juni 2026 mencatat, rata-rata saldo tabungan per rekening di Indonesia kini berada di angka Rp 2.980.000.
Angka ini menurun 5,4 persen dibandingkan posisi tahun sebelumnya, dan jatuh jauh dibandingkan tahun 2018, saat rata-rata saldo masih mencapai Rp 4.520.000.
Artinya, dalam kurun waktu delapan tahun, rata-rata uang yang tersimpan di rekening rakyat telah menyusut sebesar 34 persen.
Setiap tahun turun, antara lain 2019 menjadi Rp 4.380.000, 2020 Rp 4.150.000, 2021 Rp 3.970.000, 2022 Rp 3.740.000, 2023 Rp 3.510.000, 2024 Rp 3.320.000, dan 2025 Rp 3.150.000.
Polanya konsisten, menurun perlahan namun pasti, sejalan dengan tekanan biaya hidup yang terus mendesak dari segala arah.
Yang menyayat hati, penurunan ini tidak terjadi secara merata di seluruh lapisan masyarakat. Justru sebaliknya, semakin kecil penghasilan seseorang, semakin dalam tabungannya tergerus.
LPS membagi data berdasarkan kelompok jumlah simpanan, dan hasilnya membelah realitas menjadi dua dunia yang sangat jauh berbeda.
Dari total rekening yang ada di Indonesia, 93,4 persen di antaranya adalah rekening dengan saldo di bawah Rp 10 juta mayoritas rakyat kecil, pekerja harian, petani, nelayan, dan keluarga berpenghasilan menengah ke bawah.
Selama semester pertama tahun 2026, kelompok ini mencatat pertumbuhan simpanan MINUS 2,8 persen, artinya uang yang tersimpan di rekening mereka berkurang, bukan bertambah.
Demikian pula kelompok di atasnya, yaitu yang memiliki simpanan antara Rp 10 juta hingga Rp 100 juta menyusut sebesar 1,1 persen.
Kedua kelompok ini mencakup lebih dari 98 persen seluruh rekening di Indonesia dan hampir semuanya mengalami penurunan.
Sementara itu, di ujung yang berlawanan, pertumbuhan justru melesat tinggi.
Simpanan Rp 1 miliar, hingga Rp 5 miliar naik 7,9 persen dan yang paling mencolok simpanan di atas Rp 5 miliar, yang hanya dimiliki oleh 0,1 persen jumlah rekening, melonjak naik 12,3 persen.
Inilah kesenjangan yang paling jujur diceritakan oleh angka, yaitu semakin ke bawah, semakin menipis, semakin ke atas, semakin melimpah.
Beban inflasi ditanggung mayoritas rakyat, sementara keuntungan nilai aset dinikmati segelintir orang terkaya.
EKSPEKTASI VS REALITAS — PHILIP CONVERSE (1964)
Fenomena menyusutnya tabungan rakyat ini bukan sekadar persoalan angka.
Ini adalah manifestasi nyata dari apa yang dijelaskan oleh Philip Converse dalam karyanya The Nature of Belief Systems in Mass Publics (1964) — Teori Ekspektasi vs Realitas.
Inti Teori Converse menjelaskan bahwa sistem kepercayaan masyarakat dibangun di atas kesenjangan antara apa yang diharapkan dan apa yang dialami.
Ketika realitas terus menyimpang dari ekspektasi secara berkelanjutan dan tidak ada tanda perbaikan maka keyakinan masyarakat terhadap masa depan perlahan runtuh.
Lebih dari itu, rakyat tidak lagi menyesuaikan harapan ke atas mengikuti janji melainkan menurunkan standar hidup mereka agar selaras dengan kemampuan nyata.
PENERAPAN TERHADAP FENOMENA TABUNGAN
1. Ekspektasi Rakyat vs Realitas yang Diterima
Selama delapan tahun, rakyat secara terus-menerus diberitakan bahwa perekonomian tumbuh, program sosial diperluas, dan kesejahteraan ditingkatkan.
Namun realitas yang dirasakan setiap hari justru berlawanan, yaitu tabungan turun 34%, biaya hidup naik, dan sisa untuk ditabung makin hilang.
Menurut Converse, ketika kesenjangan antara ekspektasi dan realitas melebar terlalu jauh dan terlalu lama, maka rakyat tidak lagi menuntut lebih.
Mereka mulai menyesuaikan diri dengan lebih sedikit. Tabungan yang seharusnya bertambah setiap tahun, kini dihapus dari daftar harapan karena bertahan hidup menjadi prioritas satu-satunya.
2. Penurunan Standar Hidup — Mekanisme Penyesuaian Diam-diam
Konsep kunci Converse ialah ketika realitas tidak mengejar ekspektasi, maka ekspektasi yang turun menuju realitas.
Inilah yang terjadi pada tabungan rakyat. Rakyat tidak berhenti menabung karena malas tapi mereka berhenti menabung karena telah menurunkan ekspektasi masa depannya.
Menabung untuk masa depan adalah tindakan yang lahir dari keyakinan: "esok hari akan lebih baik, jadi saya sisihkan hari ini."
Ketika keyakinan itu digerus tahun demi tahun, maka tabungan adalah yang pertama kali dikorbankan.
Bukan karena tidak peduli pada masa depan, melainkan karena masa depan kini terlihat lebih tidak pasti hari ini.
3. Kesenjangan Sistemik Menggerus Kepercayaan Kolektif
Converse juga menekankan bahwa masyarakat melihat pola, bukan satu peristiwa.
Delapan tahun berturut-turut tabungan turun bukan kebetulan, bukan musibah sesaat.
Ini adalah pola yang terbaca oleh setiap rumah tangga tanpa perlu dijelaskan.
Dan yang paling memperdalam keretakan sistem kepercayaan, dimana rakyat melihat bahwa sementara 98 persen mengalami penurunan, 0,1 persen justru makin kaya.
Jika kebijakan ekonomi dirasakan semakin tidak merata, maka penurunan tabungan bukan sekadar masalah uang melainkan penarikan kepercayaan terhadap sistem itu sendiri.
4. Inklusi Keuangan Tanpa Kemampuan Menabung = Ekspektasi Palsu
Program inklusi keuangan berhasil menumbuhkan ekspektasi: "punya rekening = makin sejahtera."
Namun realitas LPS membuktikan, jumlah rekening naik 12,7 persen, saldo rata-rata turun 34 persen.
Ini adalah contoh paling murni dari kesenjangan ekspektasi-realitas yang dijelaskan Converse, ketika janji kebijakan tidak tercermin dalam pengalaman nyata, masyarakat tidak marah secara terbuka, tapi mereka hanya berhenti menabung, berhenti berharap, dan menyesuaikan gaya hidup ke bawah secara senyap.
CATATAN KRITIS
Delapan tahun penurunan tabungan bukan sekadar angka statistik, dalam cermin Teori Ekspektasi vs Realitas Philip Converse, ini adalah tanda bahwa harapan rakyat telah menyusut lebih cepat daripada rupiah yang tersimpan di bank.
Rakyat tidak lagi menabung untuk masa depan, mereka menarik tabungan untuk hari ini.
Bukan karena mereka tidak peduli esok hari, melainkan karena realitas hari ini telah memaksa mereka menurunkan ekspektasi esok hari.
Dan inilah dampak paling dalam: ketika seseorang berhenti menabung, ia tidak hanya kehilangan uang.
Ia perlahan kehilangan keyakinan bahwa masa depan bisa lebih baik daripada hari ini.
Dan ketika jutaan orang melakukannya selama delapan tahun, itu bukan lagi masalah ekonomi, tetapi masalah harapan bangsa. (Penulis - Deon)