CatatanSenjaNews, Manado (27/7/2026) | Angka-angka tak pernah berdusta, Catatan terkini menyiratkan satu kenyataan tak terbantahkan yakni wajah politik Sulawesi Utara sedang bertransformasi lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Bukan berarti tatanan lama runtuh seketika, namun celah pembaruan kini terbuka lebar, memaksa kekuatan yang lama menguasai panggung untuk kembali membuktikan diri di hadapan rakyat.
Perbandingan hasil resmi Pemilu 2024 dengan rata-rata riset lembaga independen sepanjang pertengahan Juli 2026, ditambah dinamika masuknya tokoh senior dan arah kepemimpinan partai di tingkat daerah, menggambarkan posisi setiap kekuatan, siapa yang melesat naik signifikan, serta mana yang mulai berbenah menghadapi perubahan.
Secara keseluruhan, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan masih memegang kendali utama dengan rentang dukungan stabil di 27,2 hingga 29,3 persen, sedikit terkoreksi namun tetap kokoh dibandingkan perolehan 28,9 hingga 30,2 persen dua tahun silam.
Kekuatan ini bergerak mantap di bawah arahan Mantan Gubernur Olly Dondokambey sebagai pemimpin puncak daerah, membawa warisan kebersamaan dan rekam jejak pembangunan yang telah terjalin lama.
Posisi itu menegaskan partai tersebut tetap menjadi patokan utama, mengakar kuat di seluruh lapisan masyarakat dan selaras dengan aspirasi warga yang mendambakan keberlanjutan perjuangan keadilan serta persatuan.
Di urutan kedua, Partai Gerakan Indonesia Raya menunjukkan pergerakan naik yang makin mengukuhkan posisinya, kini berada di kisaran 19,8 hingga 22,1 persen, meningkat dari angka 18,1 hingga 19,5 persen pada pemilu lalu.
Kenaikan itu berjalan seiring kepemimpinan langsung Gubernur Yulius Selvanus yang memegang kendali organisasi daerah, menyatukan arah kebijakan pemerintahan dengan gerakan politik partai secara lebih terpadu.
Langkah ini sejalan dengan harapan sebagian besar konstituen yang menginginkan kesinambungan pembangunan, ketegasan, serta kestabilan yang berpihak pada kepentingan rakyat luas.
Sementara itu, Partai Golongan Karya masih bertahan kokoh di papan tengah, dengan penyesuaian sangat terbatas dari kisaran 12,7 hingga 13,9 persen pada 2024, kini berada di angka 11,8 hingga 13,3 persen.
Stabilitas ini tak lepas dari susunan kepemimpinan yang kini berjalan lebih seimbang dan terpadu.
Michaela Elsiana Paruntu selaku Ketua DPD Sulawesi Utara membawa arah manajemen organisasi yang lebih rapi, transparan, dan merata ke seluruh wilayah kabupaten/kota.
Di sampingnya, Tonny Lasut berperan vital sebagai perekat hubungan dengan kader-kader senior yang telah lama mengabdi, menjaga agar nilai-nilai perjuangan lama tetap terjaga selaras dengan semangat pembaruan.
Kekuatan ini juga diperkokoh oleh kehadiran kader-kader potensial di wilayah Bolaang Mongondow Raya seperti Aditya Moha dan Rasky Mokodompit, semakin memperluas jangkauan dukungan hingga ke pelosok daerah.
Tak kalah penting, pengaruh Christiany Eugenia Paruntu di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sekaligus jaringannya di jajaran pusat menjadi aset berharga yang menjamin aspirasi daerah tetap didengar dan diperjuangkan di tingkat nasional.
Gabungan kepemimpinan yang saling melengkapi ini membuat Golkar tetap menjadi pilihan utama bagi kalangan yang menghargai rekam jejak panjang dalam pembangunan serta keahlian merajut kerjasama lintas elemen masyarakat.
Posisi berikutnya ditempati Partai NasDem mengalami penyesuaian sedikit ke bawah, dari angka 9,4 hingga 10,8 persen menjadi 8,4 hingga 9,6 persen.
Partai ini tetap memiliki kesesuaian kuat dengan konstituen yang mendambakan pembaharuan, gagasan cerdas, serta keterbukaan terhadap pemimpin-pemimpin baru berintegritas.
Salah satu perkembangan paling menonjol adalah kebangkitan Partai Demokrat.
Melalui konsolidasi struktural yang rapi dan kepemimpinan semakin utuh, angka elektabilitasnya melonjak dari yang semula hanya 3,7 hingga 4,5 persen pada pemilu lalu, kini mencatatkan kenaikan menjadi 5,1 hingga 6,3 persen.
Kemajuan itu tak lepas dari peran Mor Bastian selaku Ketua DPD Sulawesi Utara yang merapikan struktur organisasi secara menyeluruh, Harley Mangindaan sebagai Wakil Ketua I memperkuat jaringan kader hingga ke tingkat desa, serta dukungan nyata Hilary Lasut membawa pengaruh dan kinerja partai di tingkat legislatif pusat.
Gabungan kepemimpinan solid itu selaras dengan harapan konstituen yang menginginkan keseimbangan antara pengalaman, kematangan berorganisasi, serta akses nyata memperjuangkan kepentingan daerah.
Lonjakan paling drastis justru terjadi pada Partai Solidaritas Indonesia.
Dari angka yang sebelumnya hanya berkisar 2,1 hingga 2,9 persen, kini dukungannya melesat lebih dari dua setengah kali lipat menjadi 6,2 hingga 8,1 persen.
Pertumbuhan itu menjadikannya kekuatan dengan laju perkembangan tercepat saat ini, yang didorong secara signifikan oleh masuknya sejumlah nama besar mantan kepala daerah dan politisi senior yang memutuskan bergabung, yaitu Tatong Bara, Syerly Sompotan, James Sumendap, James Karinda, hingga Petra Rembang.
Kehadiran tokoh-tokoh berpengalaman ini melengkapi semangat baru partai, menghapus keraguan sebagian masyarakat, dan menjadikannya sangat sesuai dengan karakteristik konstituen yang menginginkan gaya perjuangan segar, transparan, dekat dengan rakyat kecil, serta didukung rekam jejak yang sudah teruji memimpin dan berjuang di tengah masyarakat.
Dukungan yang sebelumnya tersebar pada kelompok yang mengutamakan nilai-nilai luhur dan pelayanan berprinsip, kini semakin terserap merata ke dalam partai yang memiliki kesesuaian visi, sehingga memperkuat posisi masing-masing kekuatan yang dinilai paling tepat mewakili aspirasi tersebut.
Kekuatan lainnya secara keseluruhan masih berada di bawah angka empat persen, belum menunjukkan pergeseran cukup signifikan mengubah tatanan persaingan utama, meskipun tetap berpotensi mengubah perhitungan perolehan kursi di wilayah tertentu.
PDI PERJUANGAN: KOKOH NAMUN HARUS TERUS BERINOVASI
Sebagai kekuatan yang berakar kuat dalam sejarah perjuangan di Sulut, partai ini masih berdiri tegak di urutan teratas. Di bawah arahan Olly Dondokambey, loyalitas lintas generasi tetap menjadi modal utama yang menyatukan dukungan dari perkotaan hingga pelosok desa.
Penurunan tipis yang terjadi bukan tanpa makna. Angka itu menandakan sebagian pemilih, khususnya kalangan muda yang kini menjadi mayoritas pemilih baru mulai membagi dukungan mereka.
Mereka tidak serta-merta meninggalkan kekuatan itu, namun mulai mencari alternatif dianggap lebih segar, lebih dekat dengan gaya komunikasi masa kini, serta lebih terbuka terhadap gagasan-gagasan baru.
GERINDRA: KEKUATAN YANG SEMAKIN MENGUKUHKAN DIRI
Pergerakan partai ini di Sulut menunjukkan tren paling konsisten naik. Kepemimpinan langsung Gubernur Yulius Selvanus membawa sinyal kesatuan antara arah pemerintahan dan perjuangan partai yang makin terasa nyata di lapangan.
Dukungan terhadap jalannya kebijakan nasional, semakin rapinya konsolidasi kader di tingkat kabupaten hingga desa, serta kehadiran tokoh-tokoh lokal yang semakin dipercaya masyarakat, menjadikannya penyeimbang utama yang tak bisa disepelekan.
Di wilayah strategis seperti Manado, Minahasa Raya, dan kawasan Bolaang Mongondow, selisih elektabilitas dengan kekuatan teratas kini semakin menipis.
Partai ini bukan lagi sekadar pengikut, melainkan kekuatan yang siap mengambil alih pimpinan jika pihak lain lengah menjaga kepercayaan rakyat.
GOLKAR: STABILITAS DARI KEPEMIMPINAN YANG SALING MELENGKAPI
Kestabilan perolehan dukungan Golkar bukan terjadi begitu saja, melainkan buah dari kerja sama yang erat antar pimpinan di berbagai tingkatan.
Michaela Elsiana Paruntu membawa arah manajemen yang lebih teratur dan terbuka, Tonny Lasut menjaga keutuhan ikatan dengan para pendiri dan kader lama, sementara Aditya Moha serta Rasky Mokodompit memperkuat pondasi di wilayah yang selama ini menjadi basis penting partai.
Ditambah dengan perwakilan di pusat lewat Christiany Eugenia Paruntu, partai ini memiliki jaringan yang utuh dari tingkat desa hingga ke tingkat nasional.
Kombinasi antara kematangan organisasi, peremajaan struktur, serta akses kebijakan menjadikan Golkar tetap menjadi pilihan yang dapat diandalkan, terutama bagi masyarakat yang mengutamakan kesinambungan pembangunan dan kemampuan merajut persatuan.
DEMOKRAT: KEMBALI MENGUKUHKAN DIRI LEWAT KONSOLIDASI TERPADU
Kenaikan kepercayaan terhadap partai ini bukan sekadar perubahan angka, melainkan hasil kerja nyata merajut kembali persatuan barisan yang sempat renggang.
Kepemimpinan Mor Bastian membawa ketertiban struktur yang memastikan setiap jenjang bekerja sesuai perannya, sementara Harley Mangindaan mengisi peran vital menjaga semangat kader dan merajut kembali jaringan akar rumput.
Ditambah dengan kinerja Hilary Lasut yang membawa suara Sulut hingga ke tingkat pusat, masyarakat semakin yakin bahwa kekuatan ini siap kembali menjadi tumpuan harapan.
Kombinasi pengalaman, struktur yang kokoh, dan perwakilan nyata di pusat membuat partai ini kini kembali dipandang sebagai pilihan yang stabil, matang, serta mampu menjembatani aspirasi daerah dengan kebijakan nasional.
PSI: ENERGI BARU DIPERKUAT PENGALAMAN TOKOH BERJALAN
Pergeseran paling mengejutkan sekaligus paling mencolok terjadi pada Partai Solidaritas Indonesia. Masuknya nama-nama seperti Tatong Bara, Syerly Sompotan, James Sumendap, James Karinda, hingga Petra Rembang bukan sekadar penambahan jumlah anggota, melainkan penyatuan semangat baru dengan pengalaman yang telah teruji memimpin dan berjuang di berbagai lapisan masyarakat.
Gaya pergerakan kader muda yang turun langsung ke tengah rakyat, tidak berjanji muluk-muluk, serta menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya, kini diperkuat oleh kematangan tokoh-tokoh yang sudah lama dikenal dan dipercaya masyarakat setempat.
Hal ini menjadikan partai ini sebagai alternatif yang sangat relevan di tengah kejenuhan sebagian pemilih terhadap pola lama yang kaku dan tertutup.
KESIMPULAN: PETA PERSAINGAN KINI SEMAKIN HIDUP DAN BERKUALITAS
Data-data itu memberikan satu kesimpulan utama, yakni Demokrasi di Sulawesi Utara kini sedang berjalan lebih sehat, lebih berwarna, dan lebih kompetitif.
Tak ada lagi dominasi mutlak yang tak tergoyahkan. Tak ada lagi kekuatan yang merasa cukup hanya dengan mengandalkan nama besar.
Setiap suara kini harus diperjuangkan dengan kerja nyata, Setiap langkah organisasi harus dibuktikan dengan kedekatan pada rakyat.
PDI Perjuangan di bawah Olly Dondokambey masih menjadi patokan, namun Gerindra pimpinan Yulius Selvanus sudah siap bersaing ketat.
Golkar tetap kokoh berkat susunan kepemimpinan yang saling menguatkan, Demokrat kembali bangkit lewat konsolidasi terpadu, sementara PSI menggabungkan semangat baru dengan pengalaman tokoh-tokoh berpengalaman yang bergabung memperkuat barisannya.
NasDem tetap menjadi kekuatan yang diperhitungkan dengan basis konstituennya masing-masing.
Menjelang Pemilu 2029, peta itu masih akan terus bergerak dinamis. Namun satu hal sudah pasti, rakyat Sulawesi Utara kini semakin cerdas memilih.
Mereka tidak lagi hanya melihat siapa yang berbicara paling lantang, melainkan melihat struktur organisasi kokoh, kepemimpinan yang saling melengkapi, rekam jejak bersih, serta kinerja nyata yang mampu membawa perubahan bagi tanah kelahiran mereka.
Catatan: Laporan ini disusun berdasarkan data resmi Komisi Pemilihan Umum, gabungan hasil survei lembaga penelitian independen periode Mei–Juli 2026, dinamika kepemimpinan partai, serta analisis peristiwa politik lokal terkini. Angka elektabilitas bersifat dinamis dan dapat berubah seiring peristiwa politik yang terjadi ke depannya. (red)